Just another Dosen Teknik Fisika ITB weblog

Tentang Sistem Penilaian

Jangan kikir memberi nilai. Usahakan memberi nilai sekurang-kurangnya B. Jika para mahasiswa mempunyai IP jelek maka nantinya mereka akan kesulitan memperoleh pekerjaan. Hal ini tidak saja akan merugikan karir yang bersangkutan tetapi juga, dalam jangka panjang, akan merugikan institusi perguruan tinggi ybs.  Kenyataan ini ternyata sekarang telah menjadi perhatian serius berbagai universitas papan atas di Indonesia. Saya sempat bincang-bincang dengan dosen dari sebuah universitas papan atas di Indonesia. Mereka diminta untuk memberi nilai sekurang-kurangnya B kepada para mahasiswanya, tentu dengan catatan tanpa mengurangi atau mengorbankan kualitas. Oleh karena itu para dosen itu diperkenankan mengadakan ujian berulang-ulang sampai merasa yakin bahwa nilai sekurang-kurangnya B itu memang pantas diberikan. Setelah meluncurkan pola penilaian yang diharapkan nantinya dapat mengangkat IP para lulusan maka nampaknya langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah merumuskan startegi proses pendidikan. Ini penting agar kualitas tidak menjadi korban dari kebijakan pola penilaian yang nampak memudahkan memberi nilai baik. Apalagi jika kemudian mahasiswa mempunyai sikap seenaknya dalam proses belajar karena pada akhirnya mereka yakin akan mendapat nilai sekurang-kurangnya B juga. Kita sebenarnya tidak harus memulai dari nol, khususnya untuk pendidikan kerekayasaan dan teknologi (engineering and technology), dapat mengadopsi (dengan sejumlah modifikasi yang diperlukan) metodologi yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga akreditasi internasional itu. Memang tidak mudah tetapi nampaknya  harus segera dimulai implementasi metodologi-metodologi itu agar dalam jangka panjang kita tidak mengalami hal-hal yang menyakitkan.

October 15th, 2008 at 7:38 am




5 Responses to “Tentang Sistem Penilaian”

  1.   Febdian Rusydi Says:

    Pak Her, saya tidak keberatan dengan ide “sekurang-kurangnya” B tersebut. Hanya saja, tetap banyak variabel yang belum dapat dikontrol dalam pelaksaannya sehingga merusak kualitas pemahaman mahasiswa yang lulus kuliah tersebut.

    Di sini saya berhadapan dengan karakter mahasiswa “jika tidak disediakan solusi, maka jadi tidak mengerti”. Tipe kuliah yang disenangi adalah kuliah soal (mirip bimbel kilat masa persiapan Sipenmaru/UMPTN) hehe. Belum lagi terbentuk paradigma “ah, santai aja… nanti juga dapat B”. Nah… :-?

    Betul memang, lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Solusi permasalahan tidak selalu harus sebuah solusi global (local solution for local problem), namun tentu ada sebuah panduan global, semacam standardidasi-lah, menyangkut “menjaga kualitas” tersebut. Apakah sudah ada pembicaraan serius tentang hal tersebut, Pak?

  2.   kresnodipojono Says:

    Pak Febdian Ysh., Apa yang dikemukakan itu benar adanya. Di situlah tantangan para Guru: bagaimana mengajar dengan lebih baik sedemikian rupa sehingga pada akhirnya para mahasiswa itu memang pantas mendapat nilai sekurang-kurangnya B. Tidak saja dari sisi proses pengajarannya yang harus menarik tetapi juga dapat memotivasi mahasiswa untuk bekerja dengan jujur. Guru memang sebuah profesi yang tidak bisa dilakukan dengan sambil lalu. Semoga para Guru selalu diberi kesabaran, ketabahan dan kesejahteraan dalam meniti profesi dan karirnya, amin.
    Salam,
    HKD

  3.   Imam Says:

    kalau saya sebagai mahasiswa lebih suka belajar tidak dinilai2 seperti ada quiz,UTS,UAS,dll.tapi lebih suka kalau dosenya mentargetkan yg penting mahasiswanya mengerti . Mungkin penilainya bisa dengan membuat paper, presentasi, tugas mingguan,dll.

  4.   kresnodipojono Says:

    Imam Yang Baik, penilaian hanyalah merupakan alat untuk melakukan evaluasi. Cara yang digunakan bermacam-macam, yang pada umumnya berkaitan dengan objektif dari pembelajarannya. Sebenarnya tidak hanya mahasiswanya tetapi dosen juga harus siap dengan berbagai jenis alat evaluasi itu. Proses untuk mendapatkan pengetahuan selalu menuntut kerja keras, cerdas, tuntas dan juga ikhlas. Selamat belajar (yang merupakan kegiatan sepanjang hayat) dan sukses selalu.
    Salam,
    HKD

  5.   Kasyfi Ft 2004 Says:

    salam

    saya mau memberi comment lagi, pak.

    sebagai mahasiswa, saya lebih suka cara Pak Her,, memberikan nilai minimal B, walaupun dengan ujian yang berulang ulang sampai cukup layak. Mungkin metode ini seperti yang sudah dijalankan oleh Prof. Haryono di mata kuliah sinyal.

    mengenai proses belajar mengajar, pengalaman saya ketika mengambil kuliah yang diisi oleh Pak Her, entah kenapa saya lebih bersemangat ketika Bapak menceritakan pengalaman pengalaman Bapak, entah mengenai negara jepang yang berdisiplin tinggi, atau mengenai mahasiswa Bapak yang pergi ke jepang dengan modal nekad tapi akhirnya bisa sukses, cerita cerita itu yang bisa kembali menghidupkan semangat saya untuk lagi lagi memperhatikan papan tulis yang sudah berserakan oleh rumus rumus.

    Intinya, mungkin keahlian bercerita ini harus ditularkan ke dosen lain supaya mereka juga bisa kembali menghidupkan suasana kelas yang terlanjur memaksa mata untuk menutup dan menurunkan kesadaran.

    terima kasih

Leave a Reply