Abstraksi
Manusia telah diberi kemampuan untuk melakukan abstraksi, membayangkan sesuatu yang belum ada atau bahkan tidak ada. Dengan kemampuan itu manusia mengembangkan kreativitasnya, mewujudkan sesuatu yang semula belum ada. Sang Pencipta tentunya juga menghendaki bahwa dengan kemampuan itu manusia dapat membayangkan mengenai hidup setelah mati, membayangkan suasana surgawi, sekaligus juga membayangkan suasana menggelegak di neraka. Karena itu pula manusia dapat memiliki angan-angan, sesuatu yang ingin dicapainya kelak, sesuatu yang saat ini mungkin masih merupakan impiannya. Energi dari dalam diri dapat dibangkitkan dari adanya keinginan untuk mencapai atau meraih sesuatu. Keinginan, ambisi atau cita-cita, atau dalam bahasa yang lebih keren sering pula disebut sebagai visi, dapat menjadi bahan bakar pembangkit energi gerak. Pada saat suatu cita-cita telah dapat dikristalkan dalam benak, tertanam kuat, dan menjadi fokus hidup, bahkan mungkin menjadi suatu keyakinan maka dapat dipastikan ia akan menghasilkan energi gerak yang luar biasa. Energi seperti ini dapat digunakan untuk mengatasi berbagai rintangan dan halangan dalam rangka mencapai keinginan yang masih menjadi impian. Manusia memang diberi potensi dan kemampuan yang luar biasa yang bahkan malaikat sendiri diperintah oleh Sang Pencipta untuk sujud kepada mahkluq ciptaanNya yang disebut manusia itu. Mereka yang sanggup mengkristalkan keinginannya sedemikian rupa sehingga menjadi bagian dari keyakinannya maka dapat dipastikan bahwa keinginan itu, cepat atau lambat, akan terwujud. Kuatnya keinginan seorang manusia bahkan dapat mempengaruhi alam raya sehingga alam seolah-olah turut bergerak mewujudkan keinginan itu. Dalam perjalanan mewujudkan keinginan itu nampak banyak sekali “kebetulan-kebetulan” yang terjadi; ada suatu orkestrasi alami menyertai sepanjang perjalanan di ruang waktu. Ada kalanya keinginan itu benar-benar sesuatu yang berskala kecil dan pula yang berskala “besar”; yang berskala kecil pada umumnya segera tercapai, tergapai dan terwujud; sedangkan yang berskala besar tentu memerlukan waktu yang lebih lama, menuntut kesabaran, ketekunan, dan kekuatan untuk menjaga fokus itu. Baik yang kecil maupun yang besar mengandung plus dan minus masing-masing; setiap pencapaian akan selalu (seharusnya) menambah rasa percaya diri namun di saat yang sama juga menuntut ditemukannya keinginan baru agar energi penggerak hidup segera tersedia kembali. Kemampuan abstraksi perlu terus diasah agar keinginan yang bersifat kecil (jangka pendek) maupun besar dapat terus diciptakan; tanpa adanya keinginan, ambisi, cita-cita, mimpi atau visi, maka kegairahan hiduppun akan sirna atau sekurang-kurangnya hidup menjadi tanpa makna. Temukanlah visi itu sebagai sesuatu yang berdampak panjang, sepanjang mungkin, bahkan sepanjang hayat karena dengan itu energi menjadi selalu tersedia untuk menggerakkan hidup dan karena itu pula tidak pernah dipusingkan untuk setiap saat harus mencari keinginan-keinginan baru yang sebenarnya tidak perlu dan menyita waktu. Temukanlah visi abadi yang memberi energi abadi untuk mengisi hidup menjadi lebih bermakna, memberi mafaat kepada sebanyak mungkin manusia.
Selalu Menjadi Lebih Baik
Selalu menjadi pertanyaan saya: bagaimana membuat Indonesia hari ini lebih baik dari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini? Jawaban yang paling mudah adalah perbaiki dirimu dulu, sudahkah engkau hari ini lebih baik dari kemarin sehingga mempunyai bekal untuk menuju esok yang lebih baik dari hari ini. Jawaban ini nampak mudah dan cukup masuk akal, namun melaksanakannya secara ajeg, konsisten, istiqomah benar-benar tidaklah semudah mengucapkannya. Singkatnya, ada tuntutan untuk melakukan perbaikan terus menerus, perbaikan yang terjaga, yang sustain. Bagaimanakah caranya? Banyak cara dan tiap orang dapat memilih jalan dan caranya masing-masing. Mulailah dari memiliki keinginan untuk itu, atau ada niat. Jika niatpun tidak ada, lalu membiarkan hidup mengalir begitu saja, sulit dibayangkan bahwa harapan itu dapat menjadi kenyataan. Tentu saja, hal itu bukan sebuah kemusykilan, hanya menurut logika nampaknya kebolehjadiannya amat kecil. Seandainyapun tercapai, ada perbaikan terus menerus, lebih disebabkan oleh sebuah keberuntungan. Namun perlu diingat bahwa keberuntungan tidak pernah terjadi tanpa henti. Dengan kata lain perbaikan terus menerus memerlukan totalitas, mulai dari niat, tekad, dan bahkan rencana yang matang. Seluruh fakultas manusiawi harus digerakkan dan tanpa henti. Padahal setiap gerakan, apalagi tanpa henti, jelas memerlukan energi, yang tentu saja tidak kecil. Jika diinginkan hal itu sepanjang hayat maka energi itu harus tersedia sepanjang hayat pula. Karena yang digerakkan adalah totalitas fakultas manusiawi maka tentu saja tidak hanya terbatas pada fakultas fisik saja. Dengan demikian energi itu tidak cukup hanya dari makan dan minum semata karena itu hanyalah yang bersifat fisik saja. Ada gerakan-gerakan mental, spiritual, dan jangan lupa ada pula yang bersifat sosial emosional. Selama ini umumnya manusia sering menganggap bahwa cukuplah energi itu digunakan untuk gerakan fisik saja, atau emosi, atau sosial, atau spiritual saja, atau kombinasi sejumlah dari itu. Wujud dari niat, tekad dan rencana yang matang memerlukan kesemua fakultas itu secara bersama dan seimbang, baik untuk menghadapi keberhasilan maupun kegagalan, dalam perjalanan mengarungi hidup agar terjadi perbaikan yang terjaga terus menerus. Jika hanya fakultas fisik saja yang dipelihara, asal kenyang, hidup nyaman, semua fasilitas fisik yang diperlukan kapan saja tersedia maka yang muncul bisa jadi hanyalah perilaku binatang; tidak ada timbang rasa karena sosial emosional tidak pernah diasah, tidak pernah diberi asupan yang memadai. Tidak ada perasaan bersalah sedikitpun manakala dalam rangka memenuhi hasrat-hasrat fisik itu seluruh tatanan sosial dilabraknya. Perilakunya bahkan dapat lebih jelek dari binatang karena bahkan binatang buas sekalipun mengenal tatanan sosial perikebinatangan; setiap wilayah di hutan sabana yang luas di Sarengati Afrika itu, misalnya, ada penguasa komunitas spesies binatang masing-masing, ada adab yang mereka junjung tinggi. Manakala seluruh fakultas manusiawi itu tidak digerakkan secara bersama dan seimbang secara harmonis maka yang terjadi adalah kerusakan, bukan lagi perbaikan. Jika itu yang terjadi maka jangan berharap bahwa hari ini akan lebih baik dari kemarin, dan jangan pula mimpi besok akan lebih baik dari hari ini. Semoga kita dapat menjaga seluruh gerakan fakultas manusiawi masing-masing, sebagai aset fitriah dengan potensi luar biasa itu, secara bersama serta seimbang harmonis sehingga tatanan masyarakat luhur, beradab dan bermartabat dapt diwujudkan. Aamiin.
Gayus dan Karakter
Gayus (lama) tertangkap! Semua terkejut dan berbagai usaha dilakukan agar kasus itu tidak terulang lagi. Tiba-tiba muncul Gayus baru dan tertangkap lagi. Adalah salah besar menganggap bahwa Gayus (lama) adalah sesuatu yang tiba-tiba datangnya dan itu hanyalah sebuah anomali. Dengan orde uang yang dicurinya sedemikian besar, sungguh tidak mungkin bahwa itu hanyalah kasus yang bersifat lokal, terisolasi, berdiri sendiri. Dapat dipastikan bahwa itu hanyalah sebuah puncak gunung es di atas permukaan air, nampak kecil, berdiri sendiri dan terisolasi. Namun sebenarnya, di bawah permukaan, ia adalah sesuatu yang amat besar dan dahsyat, yang sanggup menenggelamkan Kapal Titanic. Karakter Gayus, yang berani menelikung uang negara sampai puluhan milyar, tanpa merasa bersalah, tentu dibentuk oleh proses yang lama dan panjang. Perasaan aman, nyaman, dan tenang dalam melakukan kesalahan tentu dikarenakan oleh bentukan lingkungan dalam waktu yang amat lama. Ada contoh-contoh nyata dan gamblang dari para pendahulu, para senior yang dapat melenggang menilep uang milyaran tanpa tersentuh hukum, dan itu berlangsung terus menerus, mungkin puluhan tahun (rezim orde baru saja berlangsung 30 tahun lebih) tentu telah memberi Gayus sebuah “pandangan dunia” (world view) yang amat menggoda dan bahkan kemudian membentuk dirinya, bahkan barangkali tanpa disadarinya. Karakter, sebuah tingkah laku yang mewujud secara alamiah, tanpa dibuat-buat, tentu dibentuk dalam waktu yang amat panjang sehingga ia tertanam kuat menukik amat dalam di bawah sadar. Karakter dapat dibentuk secara sengaja dan terencana, diproses dan dididikkan; tentu untuk suatu karakter yang berbeda dengan lingkungannya akan memerlukan usaha yang berat namun bukanlah sesuatu yang mustahil. Ada tahapan-tahapan yang harus dilewati, mulai dari dipaksakan secara ketat dan disiplin, kemudian diterima ditataran rasional, dan akhirnya diterima sebagai bagian dari keyakinan. Tindakan mengambil hak orang lain, mencuri atau korupsi secara universal dipandang sebagai tindakan tidak terhormat, tidak layak, tidak bermoral, kejahatan. Namun pandangan pribadi mengenai hal ini dapat mengalami erosi evolutif. Selama proses pendidikan tingkat dasar hingga menengah (bahkan mungkin hingga universitas) pandangan dunia bahwa korupsi adalah suatu tindak kejahatan bisa jadi belum berubah atau bahkan terus mengalami proses penguatan. Dunia pendidikan memang sebuah dunia ideal dan sebagian besar peserta didik memang “terlindungi” di dalam atmosfir ideal itu (walaupun dalam banyak kasus keadaaan ideal di dunia pendidikan juga mengalami erosi akibat kuatnya tekanan lingkungan atau masysrakat yang lebih luas dan kuat). Meskipun demikian tidak diingkari bahwa benih-benih koruptif juga mulai merasuk ke dunia pendidikan, sejak persaingan masuk yang amat ketat (sering memaksa orang tua menempuh jalur yang tidak benar, anak-anak dipaksa untuk berorientasi hanya pada angka kelulusan dan mengabaikan proses). Pendidikan, formal maupun informal, merupakan proses yang amat penting untuk memperlambat erosi evolutif tersebut. Sedikit saja terdapat kesalahan dalam proses pendidikan dapat berakibat fatal, gagal membentuk pribadi dengan karakter kuat, untuk tetap tegak berpijak pada nilai-nilai luhur universal: jujur, tidak menelikung dan mengambil hak orang lain. Jika nilai ini dapat ditegakkan kembali secara massif maka Indonesia masa depan masih akan mempunyai harapan yang dapat dibanggakan. Semoga!
Hentikan Kekonyolan Ini
Harga BBM tidak jadi dinaikkan, sangat disayangkan. Siapa yang menang dalam drama teatrikal para wakil rakyat memperdebatkan masalah harga BBM itu? Tidak ada. Yang ada hanyalah yang kalah. Siapakah mereka yang kalah dan dikalahkan itu? Anak-anak, generasi muda, generasi penerus bangsa! Mereka semualah nantinya yang akan memikul beban akibat harga BBM tidak dinaikkan oleh para wakil rakyat yang tidak bertanggungjawab itu. Dengan tidak dinaikkannya harga BBM berarti Negara harus memberikan subsidi yang sungguh tidak kecil. Dana itu sebenarnya dapat digunakan untuk membangun berbagai infrastruktur, perbaikan pendidikan, dan berbagai investasi masa depan lainnya; investasi untuk anak-anak, generasi muda dan generasi penerus bangsa. Tanpa investasi itu, dengan jumlah penduduk yang terus meningkat, maka 10 – 20 tahun yang akan datang (kalau bangsa dan Negara ini masih ada!), dapat dibayangkan betapa berat kehidupan mereka. Infrastruktur maupun sumber daya manusia untuk 10 – 20 tahun mendatang harus disiapkan saat ini, tidak bisa ada dengan tiba-tiba. Namun dengan anggaran yang terbatas, sebagian besar untuk gaji, membayar hutang dan subsidi bahan bakar, maka tidak ada percepatan pembangunan yang amat diperlukan itu. Mengapa percepatan? Karena tetangga kita, di regional Asia Tenggara saja, terus mengalami pertumbuhan, dan pada akhirnya mereka membutuhkan sumber daya pula. Dari mana? Dari wilayah terdekat yang paling lemah dan itu adalah Indonesia. Jika tidak hati-hati dikelola dan dipersiapkan dari sekarang, bangsa dan Negara ini dapat menjadi suatu slave nation, bangsa budak: bangsa yang selalu diperas sumber dayanya tanpa sedikitpun mengadakan perlawanan, karena keterpaksaan, karena kebodohannya sendiri yang berlarut-larut. Cepat atau lambat, tidak peduli siapa penguasa politiknya, harga BBM harus dan pasti naik. Menundanya hanyalah menunda persoalan dan setiap penundaan pasti ada harga yang harus dibayar dan itu pasti sangat mahal. Tekanan harus diberikan agar dana yang semula untuk subsidi itu digunakan dengan tepat dan ketat. Juga kebocoran-kebocoran harus terus dikurangi; para wakil rakyat harus semakin dituntut untuk akuntabel kinerjanya dalam menyelesaikan masalah bangsa. Mereka harus tahu dan sadar tingkah lakunya sungguh dalam pengawasan rakyat; mereka harus sadar bahwa mereka bukan tuan-tuan, tetapi pelayan rakyat. Sudah saatnya pula, kita semua, rakyat jelata mulai memberikan pelajaran kepada mereka, yaitu bersiap-siap mengusir para wakil rakyat yang mengkhianati harkatnya, melalui pemilu yang sudah diambang pintu. Sudah saatnya pemilihan tidak lagi memberi bobot kepada partai, tetapi lebih sungguh-sungguh memperhatikan orangnya. Harga BBM yang disubsidi sehingga lebih murah disbanding harga di Negara tetangga rawan memancing penyelundupan; BBM diselundupkan ke Negara tetangga dan kemudian dijual kembali kepada Pemerintah Indonesia dengan harga yang mahal. Itu terjadi! Rakyat Indonesia mensubsidi para pedagang minyak (luar negeri pula!). Dengan kekayaan yang mereka peroleh selama ini, sungguh mudah bagi mereka mengeluarkan dana untuk membayar para demonstran dan para politisi agar harga BBM tetap murah melalui subsidi, yang pada hakekatnya rakyat pula yang membayar. Jadi lebih baik harga dinaikkan (sama saja rakyat yang membayar), tetapi tidak ada dana yang tersedot keluar oleh para spekulan dan pedagang minyak asing! Kekonyolan-kenkonyolan dan dagelan-dagelan ini harus dihentikan, kasihan anak-anak Indonesia masa depan. Cukup sudah mereka kehilangan hutan, bahan galian, dan lingkungan hidup yang nyaman; jangan sampai mereka terpaksa menjadi budak bangsa-bangsa lain di masa depan!
KAWATIR
Ada orang yang mempunyai banyak rumah, namun hanya satu saja yang dapat ia tempati setiap saat. Tentu, karena ia memang tidak mungkin berada di dua tempat pada saat yang sama. Juga, ada orang yang mempunyai banyak mobil, lagi-lagi hanya satu yang dapat ia kendarai pada suatu waktu tertentu. Keadaan sebaliknya bisa juga terjadi. Ada seseorang yang sungguh tidak mempunyai rumah namun ia tinggal di villa di wiliyah pegunungan yang indah dan sejuk. Tentu, karena ia adalah penunggu villa itu. Ada manusia yang tidak punya mobil, namun ia mengendarai mobil mewah kemana-mana setiap hari. Wajar saja karena ia seorang sopir dari pemilik mobil. Daftar anekdot ini dapat terus kita perpanjang. Nampaknya rumah dan mobil itu tidak sepenuhnya menjadi rejeki pemiliknya. Para pemilik itu boleh saja mengklaim sebagai pemiliknya, namun faktanya ia tidak dapat terus menerus menikmatinya. Boleh saja, di sisi yang lain, mereka hanyalah pembantu atau sopir, faktanya mereka mempunyai kebebasan untuk memakai, menggunakan bahkan menikmatinya. Walau fakta telah cukup berbicara, namun rumah, mobil dan berbagai harta kekayaan lainnya itu terus saja ditambah oleh para pengaku sebagai pemiliknya. Belum lagi ada fakta kuat, bahwa itu semua pada akhirnya harus ditinggalkan begitu saja sewaktu mereka harus memasuki liang lahat. Mungkin ada keinginan untuk mewariskan kepada keturunannya; mungkin pula untuk memenuhi hasrat kuat memiliki (sayang tidak dapat menikmati seluruhnya), atau ada sebab-sebab lainnya. Kekayaan harta benda memang mempunyai daya tarik tersendiri bagi manusia; ia menjadi hiasan, pernak pernik yang amat menarik yang sering kali menipu. Ada perasaan kuat bahwa jika saja memilikinya akan memberi kebahagiaan, namun senyatanya kebahagiaan itu hanya mampir sesaat. Mempunyai mobil baru ternyata hanya memberi kepuasaan yang dalam hitungan hari, setelah itu muncul hasrat-hasrat untuk memiliki yang lain. Dunia memang menggoda dan para pengabdi kenikmatan dunia jumlahnyapun tidak mengherankan jika dari waktu ke waktu semakin bertambah. Ia sangat menggoda karena dengan itu bahkan hukumpun dapat diaturnya. Bisa jadi kredo “ada uang, ada barang” menjadi kenyataan ditengah-tengah masyarakat pengabdi kenikmatan dunia. Ada gurauan ringan yang mengatakan bahwa ada tiga jenis manusia yang hendaknya jangan dilawan karena akan sia-sia. Mereka adalah atasan, orang kaya, dan orang gila. Dalam masyarakat pengabdi kenikmatan dunia, uang menentukan segalanya, menjadi tuhan baru. Keinginan orang kaya adalah hukum. Aset negara berada dalam kantong sakunya, dapat digunakan sekehendak hatinya, yang dapat dialih fungsikannya dengan mudah. Jangankan benda mati yang amat kasat mata, bahkan yang abstrakpun dapat diwujudkannya. Citra apa saja dapat menjadi pakaiannya: kehormatan, dengan berbagai gelar, ketenaran, kedermawanan dan bahkan kesolehanpun dapat dikenakannya dengan amat nyaman. Bahkan lebih dari itu, dengan pakaian itu ia menjadi selebritis, disorot dan mendapat pujian di mana-mana. Banyak yang ingin mengikuti jejaknya, setiap gerak geriknya telah menjadi ukuran, menjadi trend setter. Setiap pertanyaan yang menggugat asal-usul harta kekayaannya akan selalu kandas di ranah hukum dan opini masyarakat. Hukum adalah kekayaan, dan kekuatan opini sebanding dengan tebalnya tumpukan uang. Mengerikannya, bahkan yang tidak kebagianpun juga merasa nyaman karena mimpi-mimpi terus diciptakan secara masif. Pengikut-pengikut baru terus bertambah dari waktu ke waktu. Mereka dipelihara dalam keadaan yang amat seimbang, hidup segan matipun tak hendak. Ada penghasilan namun hanya cukup untuk menopang hidup nyaman namun tidak memadai untuk membangun nyali dan menjernihkan nurani. Hiburan-hiburan murahan terus disediakan, 24 jam sehari, dan tujuh hari dalam satu minggu. Tidak ada waktu untuk merenung sebenarnya apakah makna hidup dan kehidupan yang pendek ini? Kita sungguh beruntung bahwa masyarakat seperti itu hanya ada dalam ranah kekawatiran saja. Semoga!