Catatan tentang Jerman

Dari buku fakta mengenai Jerman (dapat diperoleh di Kedutaan Jerman Jakarta), jumlah manusia usia produktif lebih kecil dibanding mereka yang sudah pensiun. Lebih dari 40 % CEO adalah wanita; ada kecenderungan penundaan pernikahan dan sedikit anak walaupun pemerintah telah memberi insentif bagi keluarga yang mempunyai anak kecil. Singkatnya, Jerman kekurangan manusia (yang terampil) untuk menjaga dan mendorong pertumbuhan ekonominya. Tentu ini sebuah kesempatan bagi pemuda/i Indonesia, apalagi perguruan tinggi di Jerman dapat dikatakan nyaris gratis. Demikian info yang saya peroleh sewaktu melakukan kunjungan singkat ke Jerman. Memang pada umumnya perkuliahan menggunakan bahasa Jerman. Kesempatan luas  terbuka bagi mereka yang ingin melanjutkan studi lanjut (S2 dan S3) di berbagai perguruan tinggi Jerman. Masuk perguruan tinggi Jerman relatif mudah tetapi keluar (dikeluarkan) juga sangat mudah. Yang juga menarik adalah bahwa mereka yang telah tercatat sebagai mahasiswa akan mendapat berbagai kemudahan untuk mendapatkan berbagai fasilitas (termasuk fasilitas transportasi publik dan perumahan mahasiswa). Ada baiknya mereka yang merasa atau dipandang mempunyai kapasitas intelegensia memadai sejak awal mempersiapkan atau dipersiapkan untuk melanjutkan studi pasca (di antaranya) ke Jerman. Penguasaan bahasa asing, sekurang-kurangya dua bahasa (salah satunya adalah bahasa Inggris) perlu mendapat perhatian yang lebih serius bagi mereka yang ingin memanfaatkan berbagai peluang yang banyak tersedia, termasuk seperti di Jerman itu. Semoga banyak anak muda Indonesia yang tertantang untuk memanfaatkan peluang itu bagi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Catatan Dari Jerman

Salah satu institut yang kami kunjungi di Jerman adalah Fraunhofer Institute for Photonic Microsystem. Pada saat ini fokus utama penelitian (dan produksi) dari lembaga ini adalah OLED (organic light emitting diode). Dengan menggunakan OLED ini sedang dikembangkan lampu (pendar) yang hemat energi. Sesuai dengan nama bahannya, lampu ini dibuat dari molekul-molekul organic. Wujudnya adalah suatu lapisan tipis di atas subsrat berupa gelas. Lapisan tipis ini akan berpendar apabila dieksitasi dengan menggunakan tegangan listrik. Memang pada saat ini belum diproduksi massal karena dinilai masih terlalu mahal. Tetapi wujudnya sendiri (prototipe) sudah ada dan didemokan di depan kami. Penelitian saat ini diarahkan pada penekanan biaya pembuatan sehingga dicapai nilai ekonomis yang memadai. Nampaknya memang menjadi ciri khas dari Fraunhofer Institute adalah selalu menghasilkan produk nyata (yang amat mutakhir). Satu hal yang membuat kami terkejut sewaktu masuk ke dalam laboratorium yang state of the art itu (bahkan belum selesai dibangun seluruhnya) adalah bahwa teknologi yang mereka gunakan adalah teknologi Korea Selatan!!! Bagi saya ini benar-benar mengejutkan, Jerman membeli teknologi mutakhir dari Korea Selatan untuk nanophotonic production di dalam ruang kelas 10. Korea Selatan perlu kita cermati bersama.

LAPORAN PERJALANAN KE JERMAN

Dari tanggal 3  sampai dengan 9 Nopember  2008 saya berada di Jerman atas undangan Atase Pendidikan KBRI Jerman di Berlin. Tujuan utama dari kunjungan kerja ini adalah untuk menjajagi kerjasama dalam bidang nanosains dan nanoteknologi dengan sejumlah pusat penelitian di bidang tersebut. Kami yaitu saya, bersama Dr. Nurul Taufiqu Rahman  (ketua Masyarakat Nano Indonesia) dan Dr. Triwikantoro (Dekan Fakultas MIPA ITS) sempat mengunjungi Institute for Solid Objects Physics (TU Berlin), Fraunhofer Heinrich Hertz Institute for Telecommunications, Ferdinand-Braun Institute for Highest Frequency Technology, Federal Institute for Materials Research and Testing, Fraunhofer Institute for Photonic Microsystem, Bielefeld University (khususnya ke kelompok riset mengenai Thin Films & Physics of Nanostructures, Experimental Biophysics & Applied Nanoscience, dan Physics of Supramolecular System). Kemungkinan kerjasama yang kami jajagi meliputi pemagangan (internship) postdoc maupun mahasiswa S3, pertukaran kunjungan tenaga ahli, penelitian bersama dalam bidang nanosains. Semua institusi menyambut baik hasrat untuk melakukan kerjasama itu. Fraunhofer Institute merupakan sebuah model yang menarik bagi inkubator bisnis teknologi maju. Semua institusi yang sempat kami kunjungi ini (Fraunhofer) selalu dipimpin oleh seorang guru besar sebuah universitas dan selalu mempunyai produk teknologi maju unggulan. Anggaran  sebesar 60 % berasal dari pemerintah federal (dan lokal/state), 20 % dari penelitian, dan sisanya dari industri. Produk teknologi maju unggulan mereka bersifat sangat khas, tidak ada industri lain di dunia yang membuatnya, pasar tersedia walaupun amat terbatas.

GOLF

Rumah saya berjarak kurang lebih 2 km dari lapangan golf. Biasanya di akhir pekan, Sabtu dan Ahad, saya berolah raga jalan kaki hingga mengitari lapangan golf itu. Senang menyaksikan banyaknya orang yang main golf di areal rumput yang menghampar luas dengan kota Bandung di latar belakangnya. Sudah lebih dari 4 bulan terakhir ini terjadi hal yang aneh bagi saya. Di akhir pekan kini lapangan golf itu sepi ……. sepi sekali. Sabtu pagi inipun saya kembali menyaksikan suasana yang sama, sepi dan sunyi di lapangan golf. What is really going on here? Apa ini ada hubungannya dengan pernyataan Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) beberapa waktu yang lalu yaitu kode etik melarang anggota KPK bermain golf karena dikawatirkan dapat menjadi wahana pencarian jalan keluar perbenturan kepentingan? Saya sering mendengar bahwa di Indonesia banyak pemain golf profesional atau bayaran: dibayar kantor atau rekanan. Sinyal dari KPK itu, walaupun sebenarnya dimaksudkan untuk kalangan sendiri, benar-benar dahsyat efeknya bagi para pemain golf profesional di Indonesia. Entah akan sampai kapan lapangan golf di dekat rumah saya itu berada dalam keadaan kesepian di akhir pekan sekalipun. Untung tidak ada larangan kode etik untuk olah raga jalan kaki walaupun juga diikuti ngobrol dan senda gurau.

WISUDA

Wisuda Oktober tahun ini akan jatuh pada hari Sabtu 25 Oktober 2008. Seperti biasanya pada hari Kamis menjelang wisuda kami bertemu dengan para calon wisudawan. Setiap tahun hal itu kami lakukan tiga kali dan hal itu telah kami lakukan bertahun-tahun, puluhan tahun. Selalu terbersit harapan dan doa moga-moga mereka nantinya menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya. Di samping tentu ada kekawatiran apakah mereka akan sanggup memenuhi harapan itu, yang bukan semata-mata harapan saya tetapi juga harapan semuanya (keluarga dan bahkan masyarakat). Di tengah-tengah suasana yang penuh ketidakpastian, kekawatiran itu mungkin bukan hanya berasal dari saya. Moga-moga semangat pantang menyerah (untuk tetap dan senantiasa menempuh jalan yang benar, jujur, dan juga santun) selalu mengiringi perjalan mereka. Selamat jalan dan sampai jumpa di padang masa.

« Previous PageNext Page »