Tulisan ini termuat di Note saya di Facebook..
Dan juga saya simpan di blog ini..
Dari namanya semestinya dapat disimpulkan bahwa gedung seperti ini dibangun tentunya dengan tujuan agar dapat menunjang perkembangan dan peningkatan kualitas kesenian di daerahnya. Jika dilihat dari sisi tujuannya tidak ada yang salah, bahkan dapat dikatakan tujuannya sungguh mulia sekali karena ini menyangkut ‘rasa’ yang dimiliki oleh masyarakat daerah itu disamping juga diperuntukkan sebagai wujud apresiasi dan kebanggaan dari sisi pengambil & penanggung jawab kebijakan, dalam hal ini PemDanya, kepada masyarakatnya. Jika tujuan tersebut dapat diwujudkan dengan BENAR maka masyarakat di daerah itu akan dapat meng’ekspresi’kan dirinya dalam bentuk kesenian yang khas yang nantinya menjadi ciri & ‘icon’ yang bersifat unik. Dimasa yang lalu, hal ini pernah terjadi pada saat Srimulat sedang berada pada masa jayanya.
Pada kenyataan yang ada sekarang, hampir semua Gedung Kesenian yang dimiliki oleh PemDa2 di seluruh Indonesia, tidak mampu untuk mewujudkan tujuannya itu. Pengecualian tentunya terjadi misalnya pada Gedung Kesenian Jakarta. Karena ketidak berhasilannya mencapai apa yang menjadi tujuannya, maka dapat dikatakan bahwa keberadaan Gedung Kesenian itu ‘hanya’ menjadi beban keuangan bagi PemDa-nya, yang ujung2nya juga menjadi beban bagi masyarakatnya. Hal ini tentunya akan menimbulkan tanda tanya, Kenapa hal itu terjadi?
Pada kesempatan ini, penulis tidak akan berusaha menjawab tanda tanya itu dari sisi keuangan, kebijakan, sosial, budaya bahkan dari sisi politiknya sekalipun. Penulis akan menekankan hanya dari salah satu aspek fungsional Gedung Kesenian itu sendiri, yaitu dari sisi akustik-nya. Sisi akustik ini merupakan salah satu aspek terpenting berupa media komunikasi anntara seniman & audience-nya, yang mesti menjadi ‘roh’ dari keberadaan bangunan ini. Tanpa adanya kondisi yang tepat bagi ‘roh’nya ini, bisa dipastikan bahwa fungsi gedung itu tidak akan tercapai. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kondisi akustik yang seharusnya dibuat/dirancang agar terjadi di dalam Gedung Kesenian ini?
Untuk menjawab pertanyaan ini, hal pertama yang mesti diperhatikan adalah kesenian atau seni pertunjukan apakah yang mau dipresentasikan dan dijadikan sebagai ‘icon’ dari daerah tersebut? Hal ini berhubungan dengan cukup lebarnya domain dari bidang seni pertunjukan itu sendiri. Yang paling berwenang untuk menjawab tentunya para budayawan, terutama sekali budayawan seni pertunjukan di daerah itu. Konsultasi dan usulan dari para budayawan daerah itu menjadi salah satu kunci utama kearah pencapaian tujuan dari keberadaan gedung itu. Disamping itu, diperlukan juga suatu telaah yg cukup mendalam atas potensi seni pertunjukan yg dimiliki oleh daerah itu, misalnya melalui suatu ‘feasibility study’ yg nantinya bermanfaat untuk menunjang ’sustainability’nya. Read the rest of this entry »
Share This
No Comments »
Tulisan ini saya buat di Note nya Facebook… jadi ini adalah copy-paste nya.. 
Dan saya muat juga di blog ini
Bagi beberapa orang pembaca, judul di atas mungkin dipersepsikan atau dirasakan aneh dan tidak ada relevansinya, kenapa? Subjek dari judul tersebut, meskipun tidak dituliskan, tentunya adalah orang, apakah itu penulis, pembaca atau siapa saja. Predikatnya menunjukkan aktifitas yang berhubungan dengan kemampuan salah satu indra manusia yaitu telinga, sementara objeknya (yang umum dipahami orang, apalagi oleh para arsitek) berhubungan dengan kemampuan indra penglihatan yaitu mata. Jadi namppaknya tidak ada keterkaitan antara predikat dengan objeknya, apakah memang demikian..?
Dalam keadaan sadar, maksudnya tidak dalam kondisi tidur apalagi pingsan, bagi yang memiliki indra pendengaran yang normal maka kita dapat mendengar suara2 yang sampai ke telinga kita. Disini, kita tidak mempermasalahkan dulu tentang kualitas suara2 tersebut dari sisi fisikanya, namun yang terpenting bahwa suara2 itu sampai ke telinga kita. Kemudian, kita perhatikan posisi dimana kita berada, apakah itu di dalam ruangan/bangunan atau di luar ruangan/bangunan, namun satu hal yang pasti,kita pasti berada pada suatu ruang yang riil. Selanjutnya coba kita perhatikan dengan baik salah satu suara yang kita dengarkan itu, lalu perhatikan dari mana sumber suara itu berasal. Sebagai contoh yang sederhana, coba kita (hanya) perhatikan suara yang berasal TV yang ada di kamar tengah (misalnya). Dari posisi tempat duduk kita, maka kita dapat mendengarkan TV itu secara langsung sesuai dengan arah pandangan mata kita ke TV itu. Apakah kita hanya mendengarkan suara langsung dari TV saja? Ternyata tidak, karena sesuai dengan sekuensial waktu yang pendek (dg ukuran mikro sampai mili detik) kita juga mendengarkan suara pantulan yang diakibatkan oleh bidang pembatas ruang, misalnya dinding,lantai, langit2 dan juga benda2 yg ada di ruangan tersebut. Disamping itu juga, telinga kita juga menerima pantulan berulang-ulang yang diakibatkan oleh permukaan ruang itu. Suara yang terakhir ini sering disebut dengan suara dengung. Nach, kombinasi dari suara pantulan dan juga suara dengung itulah yg merupakan ‘response suara’ dari ruang itu. Perlu diketahui bahwa response ruang ini tergantung kepada volume, luas ruang dan juga karakteristik akustik dari material2 permukaan ruang itu. Read the rest of this entry »
Share This
No Comments »


Gedung Sultan Suriansyah, Banjarmasin – memerlukan ‘treatment’ akustik yang cukup kompleks.
Pada umumnya, setiap provinsi bahkan kabupaten/kotamadya di Indonesia ini memiliki apa yang disebut sebagai Gedung Kesenian. Hal ini berkaitan dengan upaya dari masing-masing daerah untuk menggairahkan bidang keseniannya masing2 disamping juga sebagai pelengkap infrastruktur fisik daerah. Apapun tujuannya itu, dari definisinya tentunya sudah dapat diketahui bahwa sarana infra-struktur ini semestinya dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk menunjang perkembangan budaya daerahnya.
Meskipun dari sisi fungsionalnya sudah cukup banyak dan umum diketahui, namun pada kenyataannya pemilik bangunan, perencana, pemakai (dalam hal ini senimannya) dan juga masyarakat belum memahami dengan baik komponen2 fisik yang menunjang fungsionalitas gedung kesenian tersebut. Disamping sebagai bangunan yang dapat melindungi pemakainya dari panas teriknya matahari maupun guyuran hujan, faktor kenyamanan fisik juga sangat menentukan fungsi dari Gedung Kesenian itu. Faktor2 fisik itu antara lain kondisi pencahayaannya, kondisi temperatur & kelembaban udaranya, tata-letak, ventilasinya dan juga kondisi akustiknya.
Kondisi akustik dari bangunan Gedung Kesenian sebenarnya perlu mendapat perhatian yang serious, karena dari sisi fungsi, medium komunikasi yang ada antara ‘performer’ dan ‘audience’ hanya berbentuk visual dan audio. Mengingat variasi ‘performance’ yang biasa dilakukan di dalam gedung kesenian, maka pada umummnya kondisi akustiknya sesuai dengan kriteria ‘multi-purpose hall’. Dari sisi pemanfaatannya, set-up seperti ini akan memberikan fleksibilitas yang baik agar Gedung Kesenian itu dapat menghasilkan ‘income’. Set-up ini juga mengandalkan kepada ‘performance’ dari seluruh komponen sistem tata suara (yg umum mesti terpasang pada ‘multi-purpose hall’). Karena terlalu menekankan kepada pemanfaatan sistem tata suara, maka ‘kesan’ yang berhasil diberikan kepada ‘audience’ tidak maksimal. Hal ini disebabkan karena dalam kesehariannya ‘audience’ sudah terbiasa mendengarkan ‘performance’ dari sarana elektronik berupa sistem audio di rumah, TV atau ‘home theatre’ (misalnya).
Read the rest of this entry »
Share This
No Comments »
Tulisan ini disampaikan pada:
SEMINAR NASIONAL
PERAN PENDIDIKAN TINGGI DAN PEMIMPIN DAERAH DALAM MENGEMBANGKAN LOCAL GENIUS
Yang diselenggarakan oleh :
Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Senin 15 Desember 2008
Kontribusi Akustik untuk meningkatkan kualitas musik tradisional Indonesia
Pendahuluan
Kekayaan budaya yang bermacam ragam yang di miliki Indonesia, diantaranya dengan adanya bahasa daerah yang berbeda-beda, salah satunya juga dicirikan dengan adanya berbagai jenis seni musik tradisional yang memiliki keunikan tersendiri. Meskipun memiliki karakteristik tradisional, namun di dalam perkembangannya beberapa jenis musik ini sudah cukup dikenal di mancanegara, bahkan saat inipun sudah ada group-group musik tradisional yang berasal dari luar negeri. Misalnya musik gamelan Bali, musik Gamelan Jawa, Gamelan degung/sunda, angklung, wayang kulit, gondang Batak, kolintang dan sebagainya. Disamping itu, berbagai jenis musik tradisional inipun sudah cukup sering dipagelarkan di berbagai gedung konser (concert hall) yang cukup terkenal di mancanegara. Namun sampai saat ini, tidak ada satupun dari musik tradisional Indonesia yang memiliki kualitas seni musik adi luhung ini yang memiliki ‘rumah’ berupa gedung konser di daerahnya masing-masing.
Bagi penonton/pendengar, hal terpenting yang diinginkannya adalah kondisi medan akustik yang optimal dari hasil dari pagelaran musik tradisional ini. Untuk mencapai kondisi yang optimal dari medan suara inilah peranan ilmu & teknologi akustik semestinya perlu dilibatkan. Secara umum dapat dijelaskan bahwa medan suara yang diterima oleh penonton dipengaruhi oleh faktor spektral, temporal dan spatial dari medan suara. Untuk memperoleh besaran parameter akustik medan suara dari musik tradisional ini, dapat dilakukan dengan melakukan serangkaian penelitian psycho & physio-akustik. Hasil response subjektif dan objektif tersebut dapat digunakan untuk menentukan kondisi medan suara optimum yang diharapkan oleh umumnya penonton di dalam suatu gedung konser. Dengan mengubah besaran parameter ini menjadi besaran dimensi arsitektur, maka gedung konser yang ‘dedicated’ untuk jenis musik tradisional tertentu dapat dilakukan. Hal ini berarti perancangan arsitektur gedung konser tersebut semestinya dapat dilakukan dengan memanfaatkan besaran parameter akustik optimum dari medan suara, yang diperoleh dari penelitian tersebut. Tanpa memanfaatkan parameter akustik optimum ini, maka pagelaran musik tradisional tersebut tidak akan dapat memberikan persepsi yang maksimal tentang kualitas seni musik tradisional ini.
Disamping faktor ruang gedung konser itu sendiri, karakteristik akustik dari sumber suara, yaitu alat musiknya sendiri, juga memiliki peran yang sangat penting, disamping musik hasil gubahan senimannya. Sampai saat ini dapat dikatakan bahwa belum ada standar karakteristik akustik dari masing2 alat musik tradisional Indonesia ini. Dengan tiadanya standar akustik ini (sesuai dengan faktor spektral, temporal dan spatialnya) menyebabkan terjadinya kesulitan untuk menentukan kwalitas akustik musik tradisional hasil gubahan seniman itu. Hal ini juga menyebabkan terjadinya kesulitan untuk menentukan besaran optimum parameter medan suara itu sendiri, mengingat karakteristik sinyal akustik dari musik itu sendiri sangat menentukan besaran parameter akustik optimum tersebut.
Sampai saat ini, pada umumnya karakteristik akustik dari alat musik tradisional ini dan juga proses pembuatan alat musik itu sendiri sangat tergantung kepada kemampuan pendengaran, pengetahuan dan pengalaman para pembuatnya (empu). Pengetahuan, pemahaman dan penilaian subjektif tersebut, diturunkan secara tradisional dari generasi pendahulunya, tanpa disertai dokumentasi teknis yang memadai dan bersifat objektif (terutama kalau ditinjau dari sisi teknis & karakteristik fisikanya). Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian dan pengkajian yang bersifat integral dan sinergis, tentang karakteristik akustik alat musik itu sendiri beserta proses pembuatannya, struktur material, karakteristik material dan juga struktur pendukungnya. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dihasilkan suatu standar dan paten yang semestinya dimiliki oleh masyarakat sendiri (dalam hal ini ‘mungkin’ dapat dikuasai atau dimiliki oleh negara c.q. Pemerintah/pemerintah daerah).
Di sisi pelaksanaan pagelarannya sendiri, set-up panggung dan penempatan posisi alat musik itu sendiri belum dirancang dengan memanfaatkan karakteristik parameter akustik dan juga performansi visual yang optimum. Tentunya dengan merancang set-up dan penempatan yang tepat dapat meningkatkan ‘preferensi’ medan suara yang diterima oleh penonton. Dalam hal inipun, ‘preferensi’ yang dituntut penonton/ pendengar dapat diperoleh dengan melakukan penelitian yang berdasarkan kepada methoda psiko & physio-akustik.
Objektif:
Sebagai langkah awal dari program ini, perlu dilakukan identifikasi yang lengkap tentang jenis musik tradisional dari masing-masing daerah. Identifikasi ini dilakukan bukan hanya kepada jenis musik tradisional yang sudah cukup mapan dipentas nasional maupun internasional. Peralatan musik tradisional pada umumnya dibuat dengan berpedoman kepada ‘local genius’ yang umumnya dikaitkan dengan adat istiadat dan falsafah kehidupan di daerah itu sendiri. Penelusuran sejarah keberadaan alat musiknya perlu dilakukan sejalan dengan penggalian keterkaitannya dengan aspek kehidupan dan sejarah dari masyarakatnya.
Selanjutnya dilakukan pengkajian aspek fisika dari masing-masing alat musik tradisional ini, dikaitkan dengan aspek pembuatannya. Untuk peralatan musik yang terbuat dari metal, seperti gong, bonang dan sebagainya, proses metalurgi pembuatan alat tersebut perlu dielaborasi secara mendalam. Sementara untuk peralatan musik yang terbuat dari bahan non-metal, pengkajian dari sisi struktur dan juga susunan elemen-elemen mekanis yang mendasarinya perlu ditelaah secara mendalam terutama jika dikaitkan dengan karakteristik akustik yang dihasilkannya. Selanjutnya, proses penalaan yang melibatkan kepakaran dari ‘empu’ pembuatnya juga perlu dikaji dengan memanfaatkan konsep pengujian akustik dari sisi spektral, temporal dan spatialnya. Disamping itu kajian tentang konsep ‘judgement’ yang dilakukan oleh sang ‘empu’ juga perlu dilakukan, mengingat aspek subjektif yang mendasarinya disamping akibat kelangkaan literatur pendukungnya. Dengan kelengkapan kajian/penelitian tersebut maka penyusunan konsep standarisasi alat musik tradisional ini dapat dilakukan, disamping itu, perlu juga dituangkan ke dalam dokumen ‘paten milik masyarakat’ untuk alat musik tradisional tersebut.
Mengingat adanya kenyataan bahwa kondisi medan akustik yang baik bagi ‘presentasi’ jenis musik tertentu sangat ditentukan oleh karateristik sinyal dari gubahan musik itu sendiri, maka penelitian atas karakteristik akustik secara lengkap dari gubahan musik hasil dari kreativitas senimannya perlu dilakukan. Sebagai gambaran, meskipun alat-alat musik yang digunakan sama, namun kreativitas dari seniman dapat menghasilkan gubahan musik yang berbeda-beda, misalnya jika dilihat dari sisi temponya. Hal ini perlu dipahami mengingat jika musik itu dimainkan di dalam ruang tertutup misalnya auditorium, ‘resital hall’, ataupun ‘concert hall’, maka karakteristik sinyal dari gubahan musik tersebut sangat menentukan kondisi akustik optimal yang dapat didengarkan oleh penontonnya.
Objektif selanjutnya adalah mengidentifikasi kondisi akustik optimum sesuai dengan ’preferensi’ dari pendengarnya. Sebelumnya perlu untuk dijelaskan bahwa kondisi medan akustik yang dialami oleh pendengar terdiri dari penggabungan empat parameter utama, yaitu :
1. Tingkat pendengaran (Listening Level), biasanya besaran ini dinyatakan dengan besaran dBA.
2. Waktu tunda pantulan awal (Initial Delay Time), yaitu waktu tunda yang terjadi antara suara langsung dari sumber ke pendengar dan suara pantulan,
3. Waktu dengung subsequent (Sub-sequent Reverberation Time), yaitu waktu dengung yang berhubungan satu-satu dengan posisi sumber suara dan penerima dan
4. Korelasi silang sinyal antar kedua telinga (Inter-Aural Cross Correlation, IACC), yaitu besaran yang menyatakan adanya perbedaan sinyal suara yang diterima di telinga kiri dan kanan pendengar.
Presentasi lengkapnya dapat di download disini => kontribusi-ilmu-akustik-untuk-meningkatkan-kualitas-musik-tradisional
Bagi yang berminat untuk membaca paper lengkapnya, silahkan kontak : ignmerth@tf.itb.ac.id
Share This
Tags: Concert Hall dedicated for Indonesian Traditional Music
No Comments »
Tulisan2 dibawah ini menunjukkan kepada kita, bahwa masih banyak masyarakat kita yang cukup memberikan apresiasi yang tinggi terhadap ‘budaya tradisional’ yang dimilikinya. Bagaimana dengan kita sendiri…? Apakah kita masih memiliki semangat dan kerendahan hati untuk mempertahankan apa yang kita ‘miliki’ itu…?
Tulisan menarik dari Kompas
Minggu, 24 Agustus 2008 | 01:07 WIB
Siapa sebenarnya komunitas seni di gunung-gunung seputar Magelang? Mereka adalah para petani sayur-mayur, padi, dan tembakau. Tak peduli lagi musim paceklik atau makmur, hujan atau kemarau, mereka setia menghidupkan seni.
Seni telah lama mendarah daging dalam masyarakat itu. Komunitas Tutup Ngisor, contohnya, akrab dengan seni mocopatan, tayub, dan gamelan sejak 70-an tahun silam. Setidaknya itu terbukti dari kehadiran Padepokan Cipta Budaya yang didirikan almarhum Yoso Sudarmo tahun 1937.
Kini, padepokan ini tetap lestari dengan kegiatan seni yang tak pernah berhenti. ”Walau sibuk bertani, kami tak bisa lepas dari kegiatan seni,” kata Sitras Anjilin (47), putra ketujuh Yoso Sudarmo. Enam saudara Sitras juga turut menggiatkan seni di dusun itu.
Di Ngampel, masih di kawasan Merapi, dikenal seniman gamelan bernama Hardjo Lulut sejak tahun 1930-an. Begitu pula Dusun Kemiriombo yang punya tokoh wayang klitik bernama Ali yang aktif berkarya tahun 1930-an. Artinya, masyarakat di pegunungan di Magelang itu sudah akrab dengan berbagai bentuk seni sejak Indonesia belum merdeka.
Read the rest of this entry »
Share This
Tags: Akustik, Gamelan, Musik Tradisional Indonesia
No Comments »
Saya jadi teringat dengan apa yang pernah dinasihatkan oleh almarhum kakek saya : Kalau mau dihargai oleh orang lain, maka hargai dulu diri kamu sepantasnya..
Apakah kita sudah berusaha untuk menghargai ‘budaya tradisional yang kita miliki’…?
Tulisan dari Kompas
Kelompok gamelan teater Margasari asal Jepang pementaskan “Momotaro” (The Peach Boy) di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (23/8). “Momotaro” merupakan cukilan cerita anak-anak yang cukup populer di Jepang, bercerita tentang seorang anak melawan raksasa. Pertunjukan yang memadukan seni tradisi Jawa dan Jepang tersebut akan digelar juga di Yogyakarta dan Surabaya.
 |
KOMPAS/ILHAM KHOIRI / Kompas Images
Masyara kat di Dusun Tutup Ngisor di kawasan Gunung Merapi, Magelang, sedang menonton wayang bocah, Minggu (17/8) malam. Seni tradisional tetap digemari untuk memperingati kemerdekaan.
|
Minggu, 24 Agustus 2008 | 03:00 WIB
ilham khoiri & regina rukmorini
Masyarakat pegunungan di Magelang, Jawa Tengah, selalu menunggu 17 Agustusan. Perayaan kemerdekaan Republik Indonesia dijadikan ajang terbuka untuk menggelar pentas seni. Lewat bermacam bentuk seni yang serba ”ndeso”, mereka menyegarkan jati dirinya, sekaligus menyemai spirit kemerdekaan pada level kehidupan sehari-hari yang sangat nyata.
Minggu (17/8) itu adalah hari istimewa bagi Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Magelang. Seusai magrib, warga di lereng Gunung Merapi itu berkumpul di Padepokan Cipta Budaya yang berdiri gagah di tengah kampung. Mereka menggelar doa bersama, mencicipi makanan ala kadarnya, lantas bersiap menonton wayang bocah dan ketoprak.
Malam itu, wayang bocah mementaskan lakon Cupu Manik Astagina, sedangkan ketoprak menyuguhkan cerita Joko Kendil. Tua, muda, anak-anak, laki-laki, perempuan, semuanya mengerumuni pentas yang digelar hingga dini hari itu. Saat adegan perang berkecamuk atau muncul guyonan dari punakawan, mereka tertawa gembira.
Read the rest of this entry »
Share This
Tags: Acoustics, Akustik, Musik Tradisional Indonesia
No Comments »
Berita dari Antara
Berita ini sebenarnya menunjukkan kepada kita, bagaimana budaya musik dan tari kita dihargai dan ‘diperlakukan’ di macanegara.. Sementara kita sendiri di dalam negeri, jangankan memikirkan keinginan untuk meningkatkan kualitasnya, untuk mempertahankan ‘originalitas’nya saja secara ‘formal’ saja kita belum tentu memiliki kemampuan..
Yang selalu terjadi adalah, upaya saling lempar ‘tanggung jawab’ bukan hanya di kalangan pejabat pemerintahan bahkan di kalangan seniman sekalipun.. semuanya didasari oleh konsep : ‘materialistis’ dan ‘egoisme feodal’.. sementara di kalangan masyarakat umum sendiri, potensi untuk ikut berperan baik secara fisik maupun dukungan moral.. sebenarnya sudah tidak punya ‘reserve’ lagi, akibat dikikis oleh ‘prahara’ ekonomi, bencana, politik bahkan sampai ke unsur sara segala..
Yang mesti kita lakukan adalah kembali ke jati diri kita sendiri, kita adalah orang Indonesia dengan segala atribute yang pernah kita miliki.. Bagaimana kita memulai..? Mari kita diskusikan bersama dan coba mencari kontribusi, sekecil apapun kontribusi itu… it’ll be meaningfull..
30/03/08 15:07
London (ANTARA News) - Pertunjukan kesenian Indonesia yang dibawakan oleh sebagian besar remaja asal Hongaria penerima beasiswa Dharmasiswa, memukau sekitar 300 penonton di Debrecen, kota kedua terbesar Hongaria.
Kesenian Indonesia yang ditampilkan pada malam kesenian Universitas Debrecen itu diisi dengan tari tarian dari berbagai daerah. Acara itu menandai promosi Visit Indonesia Year 2008 (VIY) di kota Hungaria.
Arena Sri Victoria, Sekretaris-I Pensosbud KBRI Budapest, kepada ANTARA London, Jumat, mengatakan penampilan kesenian Indonesia yang berlangsung sekitar satu jam itu memukau hadirin yang terdiri dari para dosen, mahasiswa, pers, dan sejumlah duta besar asing serta tokoh masyarakat setempat.
Acara dimulai dengan menampilkan beberapa nomor tari dari negara Hongaria yang dibawakan oleh kelompok remaja dan mahasiswa.
Menurut Sri, tim kesenian Indonesia yang menampilkan tujuh penari asal Hongaria dan satu dari Indonesia telah menarik perhatian masyarakat Hongaria terhadap dunia seni Indonesia.
Dikatakannya, sebagian besar dari penari pernah menerima beasiswa Darma Siswa RI dan mereka belajar budaya Indonesia dan mengembangkannya sebagai profesi.
Salah satunya, Iveth Bardos, yang dalam acara kesenian ini membawakan ‘Tari Topeng Jawa’ dan telah membuka sanggar tari dan terus melatih muda-mudi Hongaria.
Sebagai tari pembuka ditampilkan ‘Tari Panyembrama’ yang dibawakan Felicia Zinka dan Olivia Zinka dan tari karya Sultan Hamengkubuwono ke-VII, ‘Tari Ayun-ayun’ dibawakan Iveth dan Andrea, dan ‘Tari Yapong’ Betawi oleh Husna.
Penampilan tarian yang diiringi dengan Rindik Bali yang dibawakan Andras Terfy dan Gabor Nemeth serta alunan Gamelan Degung oleh Andras Terfy, Gabor Nemeth, dan Peter Szilagyi menambah semarak kesenian Indoensia.
Seminar Globalisasi
Acara kesenian yang digelar di Universitas Debrecen diawali dengan seminar Globalisasi dan Pluralisme Budaya, dimana Duta Besar RI untuk Republik Hongaria merangkap Republik Croatia dan Bosnia Herzegovina serta Republik Macedonia, Mangasi Sihombing, menjadi salah seorang pembicara.
Dubes Sihombing mengemukakan ragam budaya, keindahan dan potensi Indonesia yang menjadikan Indonesia sebagai tujuan wisata yang menarik bagi wisatawan manca negara.
Ia juga menyinggung mengenai berbagai kesamaan antara kedua bangsa dan negara yang senantiasa menjalin kerjsama, Dubes mencatat kesamaan pada masa pra sejarah dimana di kedua wilayah sama-sama ditemukan fosil-fosil homo erectus pithecanthropus.
Sementara itu Dr. Andras Kesmarky, dosen Universitas Debrecen yang mengetahui bahwa sejumlah warga Hongaria menjadi seniman Indonesia, menyampaikan keinginanya agar mahasiswa Universitas Debrecen mendapat kesempatan mengikuti program beasiswa Darmasiswa Indonesia.
Dr. Andras Kesmarky adalah anggota Tim bantuan Medis Universitas Debrecen yang pertama masuk ke Aceh dan mendirikan rumah sakit lapangan beberapa saat setelah musibah tsunami melanda pantai Aceh dan bahkan ia juga membantu penanggulangan bencana gempa yang terjadi di Jogyakarta. (*)
Share This
Tags: Acoustics, Akustik, Concert Hall, Gamelan Bali, Gamelan Sunda, Musik Tradisional Indonesia
No Comments »
Berita dari Antara
Jadi teringat ketika sekolah di Jepang dulu, ketika berjalan-jalan di suatu tempat selain mendengarkan suara Gamelan (Apakah itu Gamelan Bali, gamelan Jawa, gamelan degung sunda) maka yang paling membuat teringat dengan tanah air adalah mendengarkan lagu atau irama dangdut ini. Teman2 orang Jepang yang pernah ke Bali - Indonesia, pasti memiliki rekaman kaset/CD Gamelan ataupun lagu musik dangdut..
24/08/08 06:41
Darwin, (ANTARA News) - Ribuan warga Indonesia, Australia, dan turis asing, Sabtu malam, memadati Kebun Raya Darwin, Australia Utara untuk menikmati pergelaran “Pesona Indonesia” yang berisi musik dangdut, pop serta aneka tarian daerah Indonesia.
Penyanyi Ida Ameida dan Yopie Latul menggoyang banyak penonton yang tetap bertahan dan bahkan berjoget di panggung hingga pukul 23.10 waktu Darwin itu dengan tembang-tembang populer, seperti “SMS”, “Poco-Poco” dan “Sajojo”.
Gelombang pengunjung terus memadati hamparan rumput hijau di depan panggung terbuka itu sejak acara mulai pukul 17.00 waktu Darwin. Banyak di antara mereka adalah para turis asing dan orang tua Indonesia dan Australia yang datang bersama anak-anak mereka.
Pengunjung dihibur oleh musik gamelan selama satu jam kemudian kegiatan itu resmi dibuka oleh Konsul RI Darwin Harbangan Napitupulu sekitar pukul 18.25 waktu setempat. Read the rest of this entry »
Share This
Tags: Acoustics, Akustik, Concert Hall, Musik Tradisional Indonesia, Seniman Indonesia, Tulisan
No Comments »
Berita dari Antara
16/05/08 21:32
San Fransisco, (ANTARA News) - Pianis muda Nial Djuliarso meraih juara pertama kompetisi jazz internasional di San Fransisco, Amerika Serikat (AS).
Nial bersama Bruce Harris (terompet), Yasushi Nakamura (bass) dan Carmen Intorre (drum) yang tergabung dalam Nial Djuliarso Quartet mengalahkan band asal New York, Meaningtone, Kamis malam.
Nial dan kelompoknya berhasil mencuri perhatian melalui tiga lagu yang mereka usung, yaitu Our Delight ciptaan Tadd Dameron, Locomotion oleh John Coltrane, dan satu komposisi asli yang diciptakan Nial.
Final kompetisi itu digelar di Yoshi`s, suatu klub jazz terkemuka di San Fransisco.
Kombinasi pemilihan lagu, tempo, keahlian setiap pemain, komunikasi serta nuansa yang dibangun di setiap lagu oleh Nial Djuliarso Quartet membuat ratusan penonton berteriak kegirangan setiap nomor selesai dimainkan.
Konsul Jenderal RI untuk San Fransisco Yudhistiranto Sungadi tampak di antara penonton.
Usai kuartet Nial menyelesaikan nomor terakhir, para penonton memberikan `standing ovation` (memberikan aplaus sambil berdiri) diiringi tepukan panjang dan teriakan-teriakan bernada kagum. Read the rest of this entry »
Share This
Tags: Acoustics, Akustik, Concert Hall, Musik Tradisional Indonesia, Seniman Indonesia, Tulisan
No Comments »
Denpasar (ANTARA News) - Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir Jero Wacik mengharapkan pemerintah daerah untuk segera mendaftarkan karya-karya budayanya ke lembaga hak intelektual.
“Kami himbau kepada Gubernur, Bupati dan Walikota di Indonesia agar rajin-rajin mendaftarkan karya-karya budayanya ke lembaga hak intelektual,” kata Menbudpar, Ir Jero Wacik di Nusa Dua, Bali, Kamis.
Dalam pembukaan Nusa Dua Fiesta (NDF) 2007 itu, Menbudpar mengatakan, pendaftaran karya-karya budaya nusantara tersebut sebagai upaya untuk melindungi karya budaya Indonesia dari pengakuan negara lain. Read the rest of this entry »
Share This
Tags: Acoustics, Akustik, Gamelan Bali, Musik Tradisional Indonesia, Tari Bali, Tulisan
No Comments »
|