Buta
Tanpa cahaya, sesehat apapun mata yang kita miliki, tetap saja yang tampak hanyalah kegelapan, hitam pekat. Cahaya merupakan pasangan mutlak dari mata agar dapat berfungsi secara sempurna. Tanpa itu keberadaan mata menjadi sia-sia dan tentunya ada sesuatu yang hilang jika dibandingkan dengan keadaan normal, bercahaya. Semua yang diperoleh melalui fungsi mata sempurna menjadi hilang; artinya, semua wujud benda, termasuk warna menjadi hilang dan yang tersisa hanyalah kegelapan. Bagi kita yang selama ini sangat mengandalkan keberadaan mata dan cahaya sungguh sulit membayangkan betapa beratnya kehilangan salah satu diantara itu. Mata dapat sakit, cahaya dapat padam. Namun, sungguh ajaib dan mengharukan manakala kita menyaksikan ada sahabat kita yang mengalami gangguan mata berupa kebutaan ternyata dapat menjalani hidup dengan bahagia. Bahkan tidak sedikit pula di antara mereka yang mempunyai prestasi luar biasa walaupun dalam kegelapan total (menurut ukuran manusia yang mempunyai mata yang berfungsi sempurna). Singkatnya, cahaya berfungsi mentransformasikan objek-objek di luar mata menjadi sesuatu yang dapat diproses lebih lanjut oleh mata. Informasi yang dapat diterima oleh mata selanjutnya diproses oleh neuron-neuron otak berupa suatu rekonstruksi atau transformasi balik sehingga objek-objek itu dapat dikenali sebagaimana adanya. Itulah sistem “penglihatan” pada manusia, ada sensor (mata) dan prosesornya (neuron-neuron tertentu dalam otak). Tentu itu semua merupakan suatu proses yang amat rumit. Ada suatu “sistem” lain di dalam tubuh manusia, yang mirip dengan sistem penglihatan, mempunyai perangkat sensor dan tentunya juga prosesornya. Agar sensor itu bekerja secara sempurna juga diperlukan sesuatu di luar dirinya, mirip dengan cahaya untuk kasus mata. Sistem itu sering disebut dengan nurani; sesuatu yang lebih abstrak dibanding “penglihatan” dengan sensor mata itu. Fungsinya hampir mirip dengan sistem “penglihatan”, yaitu juga untuk “melihat” atau tepatnya membedakan antara objek satu dengan objek lainnya. Nurani bukan untuk “melihat” objek-objek fisik namun objek-objek yang abstrak, “membedakan” antara benar dan salah, atau baik dan buruk. Sistem nurani ini juga dapat tidak berfungsi sama sekali alias mati. Namun berbeda halnya dengan sistem penglihatan fisik yang jika tidak berfungsi dengan baik pemiliknya akan merasakan efeknya secara seketika. Nurani yang tidak berfungsi bisa jadi tidak dirasakan oleh pemiliknya. Efek nurani yang rusak tidak mudah untuk dirasakan oleh pemiliknya; bahkan pada umumnya pemilik nurani yang rusak menolak untuk mengakuinya. Kerusakan fungsional nurani bisa disebabkan oleh karena kerusakan sensor, prosesor atau karena ketiadaan “cahaya” pasangan mutlak dari sensornya. Ada yang mengatakan bahwa sensor sistem nurani adalah hati, jantung, atau sesuatu di dalam dada; namun ada pula yang mengatakan sensor itu berupa keseluruhan panca indera; sedangkan prosesornya ada di dalam otak. Lalu pasangannya yang mirip “cahaya” bagi mata itu apa wujudnya? Fungsi “cahaya” dalam sistem nurani itu semestinya juga melakukan proses transformasi dan diujung sistem juga ada semacam proses rekonstruksi atau transformasi balik sehingga yang benar jelas tampak benar dan yang salah jelas tampak salah, tidak ada lagi keraguan atau kekaburan dalam membedakan kedua hal itu. Apakah yang harus ditransformasikan itu?
Jujur
Bahwa sebelum Baginda Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi dan Rasul telah dibentuk oleh Allah SWT sebagai pribadi yang dapat dipercaya, yang dibangun di atas nilai dan karakter jujur, menunjukkan betapa pentingnya nilai kejujuran ini. Nilai ini nampaknya merupakan suatu syarat perlu bagi seseorang yang akan memikul tugas besar, berat dan mulia: tugas kenabian dan kerasulan. Jujur merupakan salah satu perwujudan iman: ia merupakan wujud keyakinan bahwa Allah Maha Melihat. Tidakada satu halpun di dunia ini yang lepas dari penglihatan Allah SWT, baik besar maupun kecil, nyata maupun tersembunyi, di siang maupun malam hari. Ia juga merupakan wujud dari keyakinan bahwa Allah Maha Adil; kejujuran walaupun sering kali nampak sebagai merugikan dalam jangka pendek, namun Allah SWT tidak pernah melupakan hamba-hambaNya yang menjalani hidup dengan kejujuran. Jujur kepada Allah, jujur kepada RasulNya, jujur kepada diri sendiri, dan jujur kepada lingkungannya. Jujur untuk mengakui apapun yang bukan miliknya sebagai bukan miliknya, sehingga jujur kepada Allah SWT menyebabkannya tidak berani mengambil apapun yang memang telah dengan jujur diakuinya sebagai milik orang lain. Alangkah nikmatnya hidup di lingkungan yang dibangun di atas nilai kejujuran ini. Hati tidak pernah merasa kawatir untuk dirugikan oleh orang lain dan sedikitpun juga tidak ada niat untuk merugikan orang lain. Kejujuran nampaknya juga menjadi ciri kecanggihan, kemajuan, dan keadaban suatu masyarakat atau bangsa; semakin maju suatu bangsa, nampaknya semakin jujur tatanannya atau sekurang-kurangnya semakin mendapat perhatian mengenai pentingnya nilai kejujuran itu. Pada dasarnya memang tidak mungkin sains dan teknologi dibangun tanpa kejujuran. Memang benar kejujuran dan bangsa yang berbasis kejujuran dapat dibangun oleh pribadi atau bangsa yang tidak mengenal Tuhan sekalipun, yaitu manakala mereka mampu membangun keyakinan bahwa dalam jangka panjang kejujuran itu memberi manfaat yang luar biasa bagi diri danbangsanya; dan meyakini bahwa setiap kecurangan pada akhirnya akan menghancurkan diri dan masyarakatnya dalam jangka panjang. Kejujuran kemudian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari harga diri pribadi setiap anggota masyarakat. Memang menjadi suatu ironi dan tragedy manakala pribadi atau bangsa yang menyatakan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa namun gagal mewujudkan kejujuran sebagai pilar hidup dan kehidupannya. Selama hari ini masih ada dan tersisa, kesempatan untuk membangun kejujuran dalam hidup dan kehidupan senantiasa terbuka lebar. Sebenarnyalah bahwa masyarakat yang dibangun di atas kejujuran bukanlah sebuah utopia tau impian di siang hari bolong. Meruntuhkan kejahiliyyahan bukanlah sebuah hal yang mustahil. Semoga kita dapat mewariskan Indonesia esok yang lebih baik dari hari ini. Sesunguuhnya Allah tidak pernah tidur dan lelah mengawasi tingkah laku makhluq ciptaannYa yang bernama manusia. Sesungguhnyalah pula bahwa Allah SWT Maha Santun, tidak pernah lupa memberi penghargaan kepada hamba-hambaNya yang berjuang di jalanNya dengan menjalani hidup dan kehidupan dengna penuh kenjujuran sebagaimana diteladankan oleh RasulNya Muhammad SAW. Kepada para mahasiswa ITB, selamat berjuang menempuh ujian akhir semester. Demi Tuhan, bangsa dan almamater, bangunlah karakter, identitas dan harga diri kalian di atas landasan nilai-nilai kejujuran. Semoga dengan demikian Allah SWT berkenan melimpahkan berkah dan rahmatNya kepada bangsa ini, aamiin.
Tiga Syarat Perlu
Ada tiga faktor dominan yang menentukan seseorang untuk dapat mewujudkan impiannya. Pertama, komitmen. Sungguh merupakan suatu yang mustahil bagi seseorang untuk dapat mewujudkan impiannya jika ia tidak mempunyai komitmen atau keinginan yang amat kuat untuk itu. Apalagi jika impian itu adalah sesuatu yang nampak mustahil, tampak sayup-sayup tak sampai. Namanya juga impian, tentu merupakan sesuatu yang luar biasa, paling tidak sewaktu belum digapai dan dimiliki. Ia menjadi luar biasa dan tampak mustahil karena untuk memilikinya memang diperlukan usaha yang luar biasa besarnya, banyak kendala dan tantangan yang harus dihadapi atau diselesaikan. Oleh karena itu dapat dipahami jika komitmen menjadi sesuatu yang wajib dimiliki sebagai modal awal. Komitmen itu berasal dari dalam diri, tidak dari luar dan dengan demikian setiap orang mempunyai potensi untuk memilikinya, tidak peduli ia miskin atau kaya. Komitmen pada dasarnya adalah janji pada diri sendiri atas dasar suatu keyakinan bahwa yang diimpikan atau diinginkan itu memang sesuatu yang bisa diraihnya dan ia berniat serta bertekad untuk memilikinya. Karena adanya komitmen inilah maka energi dalam diri selalu dapat dibangkitkan setiap saat dan terus menerus tanpa henti. Gabungan niat, tekad, semangat dan kadang-kadang disertai nekat adalah wujud lain dari komitmen. Kedua, keberhasilan mewujudkan impian tidak pernah sepi dari bantuan orang lain. Bahkan ada yang mengatakan, kontribusi diri dalam mewujudkan impian itu sebenarnya tidak lebih dari sepertiga sedangkan yang dua pertiga berasal dari orang lain, orang-orang disekitarnya, baik secara langsung maupun tidak. Karena faktor inilah maka sikap sombong akan menjadi penghalang terbesar dalam mencapai kesuksesan hidup. Kesombongan menutup diri untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain secara baik dan berarti mengurangi potensi keterlibatan orang lain dalam mewujudkan impiannya. Semakin banyak orang lain yang terlibat berarti akan semakin tinggi puncak impian yang dapat digapainya. Untuk mencapai puncak yang tinggi tentu diperlukan energi yang lebih banyak dan semakin banyak orang yang bersedia berkontribusi berarti semakin banyak tersedia energi yang dibutuhkan. Inilah rahasia yang tersembunyi di balik silaturahmi; ini pula rahasia yang tersembunyi di balik karakter mulia seseorang; karena dengan kedua hal itu sebenarnya seseorang mempunyai cadangan energi yang luar biasa besarnya, yang siap digunakan untuk mencapai puncak tertinggi, yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya. Jangan pernah meremehkan silaturahmi atau jejaring sosial, dan itu memerlukan karakter kuat, dapat dipercaya. Di situlah rahasia betapa pentingnya kejujuran itu. Ketiga, selalu berpikir positif, selalu bersyukur terhadap apapun yang diterima di suatu saat dan di manapun berada. Berpikir positif selalu menyediakan ruang terbuka bagi sebuah kreativitas dan itu berarti membuka peluang tersedianya dua buah alternatif. Manakala seseorang berpikir negatif sebenarnya ia telah menutup dua buah pintu kemudahan, semua menjadi tampak sulit tanpa ada sedikitpun celah untuk lewat. Jangan pernah sedikitpun kecil hati dan kecewa dengan keadaan yang menimpa jika tidak ingin terus berada dalam kekecewaan. Sungguh kecewa dan kecil hati itu seperti sebuah kanker yang tidak pernah berhenti dan mengenal lelah untuk terus menggerogoti, menggerus kekuatan dan berbagai potensi positif. Itulah tiga hal yang menjadi syarat perlu bagi siapapun yang ingin mewujudkan mimpinya.
Bekal Menuju Puncak
Sudah lebih dari tiga puluh tahun saya menyaksikan para mahasiswa datang ke dan kemudian pergi dari kampus. Tiga puluh tahun nampaknya sudah lebih dari cukup bagi seseorang selepas pendidikan sarjananya untuk mencapai posisi di atau sekitar puncak kariernya. Oleh karena itu saya menyaksikan sebagian dari mereka yang menurut ukuran umum benar-benar mencapai puncak tertinggi dalam kariernya. Ada yang menjadi komisaris utama, presiden direktur, menteri, tokoh masyarakat dan berbagai atribut yang dapat dinilai sebagai keberhasilan atau kesuksesan hidup. Dalam kapasitasnya itu mereka dapat berkontribusi untuk membuat cukup banyak manusia yang lain menjadi lebih sejahtera; mereka telah mampu mencapai maqom untuk dapat menjadi rahmat bagi cukup banyak manusia dan alam sekitar. Sebuah nikmat atau anugerah yang sungguh tidak diberikan olehNya kepada sembarang orang; karena posisi atau atribut itu memang tidak banyak tersedia. Sudah barang tentu di dalamnya juga terkandung amanah dan ujian yang tidak kecil. Yang selalu menggoda bagi saya adalah apakah ciri-ciri mereka sewaktu masih mahasiswa dulu dan faktor-faktor dominan apa saja yang berpengaruh terhadap karier mereka selanjutnya? Jawaban ini tentu akan sangat bermanfaat jika kita ingin membentuk pemimpin masa depan sejak dari bangku sekolah atau kuliah. Memang selalu ada saja faktor X namun hal ini tidak harus menyebabkan kita mengabaikan faktor-faktor dominan yang terukur. Faktor-faktor dominan ini dapat dibuat, dibentuk atau diciptakan. Pada akhirnya memang kemudian kita berbicara dengan bahasa kebolehjadian, seperti: jika semua faktor-faktor dominan itu tersedia maka kebolehjadian terwujudnya harapan menjadi lebih besar dari setengah. Di samping mengamati keadaan nyata yang lewat di depan mata, juga dari membaca buku dan artikel mengenai kisah sukses orang-orang terkenal, pada umumnya faktor-faktor dominan itu pada dasarnya sudah lama dikenal. Faktor-faktor itu direkam dalam sejarah panjang manusia, berabad-abad, sepanjang usia manusia itu sendiri. Karakter, dan bukan personalitas semata, akan sangat menentukan perjalanan karier seseorang. Karakter merupakan sikap atau tingkah laku yang tidak dibuat-buat karena ia merupakan cerminan dari dalam diri, terbentuk dalam suatu proses hidup yang panjang, bahkan bisa jadi merupakan bagian dari keyakinan diri. Sedangkan personalitas (persona merupakan bahasa Latin yang artinya adalah topeng) merupakan sikap atau tingkah laku yang bisa semu, dibuat-buat sebagai respons terhadap rangsangan dari luar. Manakala faktor-faktor dominan itu mengarah pada terbentuknya karakter yang sejalan dengan nilai-nilai luhur seperti kejujuran, integritas, dan nilai-nilai mulia lainnya maka pribadi-pribadi bentukannya telah berada di jalur menuju puncak karier hidup sejati. Nilai-nilai itu ternyata menjadi semakin penting di jaman modern ini. Dengan tersedianya jejaring sosial yang menjangkau setiap jengkal tanah di jagad raya ini, sekali seseorang dikenal sebagai tidak jujur yang kemudian menyebar di jejaring sosial maka habis sudah karier masa depannya. Terus bentuklah karakter mulia, betapapun sulitnya itu, karena ketibaanmu di puncak sejati hanyalah persoalan waktu.
Apa Visi Abadimu?
Keinginan jangka panjang atau cita-cita atau visi walaupun amat diperlukan namun karena sifatnya yang berjangka panjang maka sering kali ia timbul tenggelam. Bahkan bisa jadi hilang, berubah dan digantikan oleh impian yang lain, impian baru yang ditemukannya ditengah perjalanan dalam ruang waktu. Perjalanan waktu dapat menyebabkan perubahan visi seseorang; pengetahuan yang bertambah dan wawasan yang semakin meluas dapat digunakannya untuk melakukan evaluasi terhadap visi hidup: realistis atau tidak. Namun tidak sedikit pula yang tanpa kenal lelah mewujudkan visi impiannya dan akhirnya terwujud setelah puluhan tahun dikejarnya. Banyak orang-orang hebat yang telah mempunyai impian besar sejak usia muda dan dengan konsisten impian itu dikejarnya terus, tanpa mempedulikan berbagai rintangan dan halangan yang sungguh tidak kecil. Tentu timbul pula rasa pesimis manakala impian itu berada di puncak yang tinggi padahal posisi saat ini sungguh berada di bawah, sangat bawah, sehingga dirasa seperti pungguk merindukan bulan. Bagaimana manusia dapat mengetahui impiannya suatu saat akan menjadi kenyataan dan oleh karena itu bersedia terus konsisten dan istiqomah mengejarnya? Di sisi yang lain, mengapa pula seseorang merasa harus mengubah impiannya, padahal sudah berjalan cukup panjang di ruang waktu dan bersedia untuk kembali memulai dari nol? Alangkah nyamannya jika ada jaminan bahwa impiannya akan terwujud, meskipun ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Bandingkan dengan meskipun tidak ada syarat-syarat yang jelas tetapi tidak pula ada jaminan bahwa impian itu akan tercapai. Fakta-fakta cukup banyak menunjukkan bahwa meskipun sejumlah syarat-syarat rasional seperti kerja keras, cerdas, tuntas, mawas dan ikhlas sudah dipenuhi, namun tidak ada jaminan bahwa yang diinginkan pasti akan tercapai. Dalam situasi seperti ini, manusia kemudian berbicara mengenai kebolehjadian; setelah melalui kerja keras, cerdas, tuntas, mawas dan ikhlas maka kebolehjadian tergapainya suatu keinginan akan bertambah atau meningkat. Apakah kebolehjadiannya dapat sama dengan satu? Jawabannya adalah tidak ada seorang manusiapun yang tahu dan sanggup memberi jaminan. Dengan kata lain kerja keras, cerdas, tuntas, mawas dan ikhlas hanya sampai pada tingkat sebagai syarat perlu namun belum cukup. Sebagai suatu syarat perlu maka hal tersebut tidak boleh sama sekali diabaikan. Di suatu titik dalam ruang waktu mungkin seseorang merasa bahwa kebolehjadian tercapainya visi menjadi lebih kecil dari setengah, kemudian sampai pada kesimpulan untuk mengubah visinya. Yang berat adalah jika hal itu terpaksa dilakukannya setelah melalui perjalanan yang panjang, melelahkan dan dengan berbagai pengorbanan yang tidak kecil. Juga menarik untuk disimak (bahkan dirasakan sendiri) setelah perjalanan panjang, melelahkan dan akhirnya mencapai impiannya namun diluar dugaan, sungguh ia tidaklah seindah seperti yang dahulu pernah dibayangkan! Inilah sejumlah anekdot di sekitar makhluq yang disebut manusia. Mereka melihat sebuah puncak, merasa nyaman jika berada di sana, dikejarnya dengan susah payah, akhirnya tiba di puncak yang memang menyegarkan, dapat melihat sekililing, kebawah ketempat yang lebih rendah. Tunggu, sebentar kemudian ia sadar ternyata ada puncak lain, yang semula tidak tampak. Maka perburuan barupun dimulai kembali. Sampai kapan hal berulang itu akan dan dapat dipertahankan terus berlangsung? Masihkah engkau belum menemukan puncak yang sesungguhnya?